Bapak itu seorang imam


Tertegun aku melihat seorang bapak dengan kaki terbelut perban di bagian telapak kaki sampai dengan mata kakinya, dengan agak kesusahan beliau berdiri dengan kaki yang satu menopang kaki yang lainnya. Dengan perlahan beliau menjalankan rakaat per rakaat sholat sunnah dan kadang-kadang dipercepat terutama ketika ruku’ dikarenakan sakit barangkali dan juga karena harus menjaga keseimbangan , akhirnya sholat itu selesai juga dan ada kata bersyukur yang dalam ketika melihat salam sehabis sholat sunnah di wajah bapak tersebut.

Setelah sholat kuperhatikan bapak tersebut mengambil sebuah botol kecil minyak angin dan kemudian mengusapkan secara perlahan di bagian kaki beliau hmm mungkin sakit kali yah, tanpa disengaja ternyata teman disebelahku juga memperhatikan bapak tersebut, aku bertanya padanya kenapa ya kira-kira kaki bapak tersebut dia berkata kemungkinan besar kena DM (Diabetes) dan kakinya luka tapi ngga sembuh dikarenakan bagi penderita DM akan susah menyembuh kan luka tersebut.

Aku berpikir di sela-sela menunggu sholat isya, subhanallah bapak itu dengan luka yang seperti itu masih semangat ke mesjid sedangkan aku yang sehat walafiat kadang memilih sholat di ruang sanggar dengan dua orang sampai tiga orang saja sedangkan bapak tersebut yang jalan aja susah lebih memilih sholat di mesjid. Perlahan-lahan pendengaranku mulai tertuju pada suara klakson mobil dan deru kendaraan yang berdesak-desakan di seberang jalan, aku pun mulai mikir lagi ternyata masih ada orang yang lebih kasihan daripada aku, ternyata masih ada orang yang keabisan waktunya dijalan dikarenakan macet padahal sudah masuk waktunya sholat isya dan tarawih.

Ternyata di bulan ramadhan ini yang katanya bulan istimewa penuh dengan rahmat ini ternyata belum mampu membentuk orang-orang yang hatinya terkait dengan mesjid, ini yang kurasakan saat ini, bulan ramadhan ini sangat berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya apa karena startup nya yang salah yah jadi berakibat pada hari berikutnya. Ramadhan telah lewat sepuluh hari tapi belum banyak yang kudapatkan “ayo semangat masih ada kesempatan” kataku dalam hati, ya ALLAH berilah hambamu kekuatan untuk menjalani puasa ini agar menjadi manusia yang lebih baik. Mumpung masih 10 hari dan masih 20 hari lagi ayo semangat.

Sholat isya pun dimulai, betapa terkejutnya aku ketika sholat isya akan dimlai ternyata bapak yang kuperhatikan sedari tadi adalah imam dan penceramah hari ini di mesjid tersebut. Allahu akbar sholatpun dimulai dan akupun larut di dalam ayat-ayat ALLAH yang dibacakan oleh bapak itu, yah bapak yang terluka kakinya itu adalah imam dan penceramah di masjid itu. Sebuah contoh ketaatan yang luar biasa bahkan sakit pun tidak membuat bapak itu mengendurkan niatnya untuk bercengkerama dengan sang maha penciptanya. Apakah ini yang dinamakan cinta, sebuah rasa cinta kepada yang Maha mencintai, sakitpun tak dirasa ketika rasa cinta telah menderu dihati untuk selalu berdekatan dengan ALLAH. Benar-benar sebuah gambaran rasa kecintaan yang sangat besar.

Ya ALLAH jadikanlah hambamu ini sebagai pencintamu

3 thoughts on “Bapak itu seorang imam

Ditunggu komennya ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s